Minggu, 20 Mei 2012


Kemacetan dan Transportasi

Kemacetan di Jakarta sudah lumrah bagi warga Jakarta . Namun anehnya , kemacetan juga terjadi di jalan tol . Bukankah jalan tol identik dengan jalan bebas hambatan ? Lantas, mengapa antrian kendaraan tampak terlihat ?
Tarif Tol yang terus meninggi dan kondisi lalu lintas Tol sangat tidak sesuai . Pemerintah tentu tidak tinggal diam . Penambahan jalan tol terus dilakukan . Namun efektifkah solusi tersebut ?
Sebelum member tanggpan ada baiknya kita membaca kutipan berita terlebih dahulu . Berikut kutipan berita dari detiknews.com .
Pemprov DKI Jakarta siap membangun 6 ruas jalan tol susun mulai 2011 . Proyek triliunan itu diprediksi tidak akan mengatasi kemacetan Jakarta.
Pembangunan 6 ruas tol tersebut akan menelan dana sebesar Rp 40 triliun lebih dengan rincian, Tol Semanan-Sunter sepanjang 17,8 km dengan anggaran Rp 9,7 triliun. Tol Sunter-Bekasi Raya sepanjang 11 km, anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 7,3 triliun.
Tol Duri Pulo-Kampung Melayu sepanjang 11,3 km anggarannya Rp 5,9 triliun. Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,6 km dengan anggaran Rp 6,9 triliun.
Tol Ulujami-Tanah Abang sepanjang 8,27 km dengan anggaran Rp 4,2 triliun. Dan Tol Pasar Minggu-Casablanca sepanjang 9,5 Km dengan dana Rp 5,7 triliun.
Pengamat transportasi Agus Pambagio tidak setuju karena menurutnya hanya memindahkan tempat parkir ke jalan tol saja. Mungkin satu dua bulan tidak macet, tapi kemudian akan macet lagi,  karena tol-tol itu tidak menyambung. Namun bila  tetap memaksa dilakukan , sebaiknya JORR (Jakarta Outer Ring Road) 1 dan JORR 2 harus disambung terlebih dahulu, jadi tidak akan hanya memindahkan tempat parkir ke jalan tol saja . 
Agus Pambagio: Prioritaskan Transportasi Publik Dulu, Baru Bangun 6 Jalan Tol dengan perubahan

Demikian  dapat disimpulkan , menambah jalan bukan merupakan solusi yang tepat mengatasi kemacetan karena :
·         Meski terus menerus memperlebar jalan , tidak ada gunanya bila sebagian besar masyarakat tetap menggunakan kendaraan pribadi.
·          Selain itu, industri otomotif akan semakin gencar menawarkan produknya dan akhirnya jumlah kendaraan akan makin bertambah dan bertambah pula kemacetan di Jakarta.
Solusi yang tepat ialah Pemprov DKI Jakarta seharusnya memrioritaskan pembenahan transportasi publik karena dana yang dibutuhkan tidak jauh berbeda dari rencana jalan tol itu. Transportasi publik yang dimaksud salah satunya adalah MRT .

Transportasi publik yang nyaman , efisien dan terakses ke segala arah

MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transit yang secara harafiah berarti angkutan yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar secara cepat. Beberapa bentuk dari MRT antara lain: 

• Berdasarkan jenis fisik : BRT (Bus Rapid Transit), Light Rail Transit (LRT) yaitu kereta api rel listrik, yang dioperasikan menggunakan kereta (gerbong) pendek seperti monorel dan Heavy Rail Transit yang memiliki kapasitas besar seperti kereta Jabodetabek yang ada saat ini

• Berdasarkan Area Pelayanan : Metro yaitu heavy rail transit dalam kota dan Commuter Rail yang merupakan jenis MRT untuk mengangkut penumpang dari daerah pinggir kota ke dalam kota dan mengantarkannya kembali ke daerah penyangga (sub-urban).
Jenis yang akan dibangun oleh PT MRT Jakarta adalah MRT berbasis rel jenis Heavy Rail Transit.

Mengapa MRT Perlu Dibangun Di Jakarta?
• Perkiraan Jakarta macet total : Saat ini pertumbuhan jalan di Jakarta kurang dari 1 persen per tahun dan setiap hari setidaknya ada 1000 lebih kendaraan bermotor baru turun ke jalan di Jakarta (Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta). Studi Japan International Corporation Agency (JICA) 2004 menyatakan bahwa bila tidak dilakukan perbaikan pada sistem transportasi,  diperkirakan lalu lintas Jakarta akan macet total pada 2020 (Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP II)

• Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukan bahwa bila sampai 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun.

• Polusi udara akibat kendaraan bermotor memberi kontribusi 80 persen dari polusi di Jakarta. MRT Jakarta digerakan oleh tenaga listrik sehingga tidak menimbulkan emisi CO2 diperkotaan.

Berdasarkan studi tersebut, maka jelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan massal yang lebih andal seperti MRT yang dapat menjadi alternatif solusi transportasi bagi masyarakat yang juga ramah lingkungan.

Bagaimana menanggulangi kemacetan yang mungkin terjadi pada saat proses konstruksi fisik/pembangunan?
Dengan didampingi kontraktor, konsultan, expert specialist, perencana kota, ekonomis , traffic planner, traffic engineer, dll yang memiliki pengalaman membangun sistem MRT di berbagai kota besar dunia lainnya, PT MRT Jakarta bersama Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta bertanggungjawab untuk mengendalikan dampak kemacetan yang mungkin timbul akibat adanya pembangunan MRT di sejumlah ruas jalan.  Beberapa upaya yang rencananya akan dilakukan antara lain adalah : pelebaran ruas jalan sepanjang rute MRT Jakarta, pelebaran ruas jalan alternatif, mengurangi konflik lalu –lintas pada simpang, penertiban hambatan samping, pengalihan arus melalui penutupan jalan dan penempatan petugas.

Saat ini, tarif masih dalam kajian. Tarif ini akan mempertimbangkan dengan daya beli masyarakat (ability to pay) dan kemauan membayar masyarakat (willingness to pay).  Kajian-kajian awal yang dilakukan sempat ada perhitungan antara Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu. Namun, penetapan tarif sebesar itu belum final. akan ada pembahasan lebih lanjut dan  ditentukan dalam sebuah peraturan.

Perencanaan dan Pembangunan MRT
Pada tanggal 25 April 2012 yang lalu, Gubenur DKI Jakarta telah mencanangkan dimulainya pembangunan MRT Jakarta.

Sistem MRT direncanakan akan dibangun dan dioperasikan dalam tiga tahap :
1.    Tahap 1,  Lebak Bulus-Bundaran HI sepanjang 15,2 Km yang dengan target operasi Tahun akhir 2016
2.    Tahap 2, Bundaran HI-Kampung Bandan 8,1 Km dengan target operasi April 2018
3.    Tahap berikutnya Koridor Timur-Barat sepanjang 87 Km  saat ini dalam studi kelayakan

Sistem MRT ini akan terintegrasi dengan Sistem KA Jabodetabek sehingga sistem angkutan masal berbasis jalan rel akan mencapai hasil yang optimum
Dari beberapa jenis angkutan masal, antara lain : Bus Rapid Transit, Light Rail Transit, Monorail, MRT diklasifikasikan sebagai moda angkutan masal heavy rail transit. Jenis ini memiliki kapasitas angkut yang terbesar dibanding jenis lainnya, sehingga  pada awal operasinya untuk Tahap 1, Lebak Bulus-Bunderan HI saja MRT akan mampu mengangkut 412.000 orang per hari.  Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta) yang berbasis rel ini  rencananya akan membentang kurang lebih ±110.8 km, yang terdiri dari Koridor Selatan – Utara (Koridor Lebak Bulus - Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih ±23.8 km dan Koridor Timur – Barat  sepanjang kurang lebih ±87 km.

• Pembangunan koridor Selatan - Utara dari Lebak Bulus – Kampung Bandan dilakukan dalam 2 tahap:

- Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15.7 km dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah) ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2016.

- Tahap II akan melanjutkan jalur Selatan-Utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan sepanjang 8.1 Km yang akan mulai dibangun sebelum tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi 2018 (dipercepat dari 2020). Studi kelayakan untuk tahap ini sudah selesai.

• Koridor Timur - Barat saat ini sedang dalam tahap studi kelayakan. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024 - 2027

Waktu tempuh untuk Lebak Bulus-Bunderan HI dan sebaliknya kurang lebih akan ditempuh dalam waktu  30 menit pada jam sibuk dan Lebak Bulus-Kampung Bandan dan sebaliknya akan ditempuh dalam 51 menit. Ini waktu tempuh yang luar biasa mengingat pada saat ini Lebak Bulus-Bunderan HI memerlukan waktu tempuh 90-120 menit.
Sebagian jalur MRT nantinya merupakan jalur rel di bawah tanah antara Bunderan Senayan sampai Bunderan HI sehingga tidak mengganggu pemandangan dan menimbulkan kemacetan lain. Sebagian lainnya dari Lebak Bulus sampai Sisingamangaradja berupa  jalur layang sehingga tidak ada perlintasan sebidang dengan jalan raya
Manfaat sistem MRT
Pengoperasian sistem MRT memiliki manfat manfaat  sebagai berikut :
·         Manfaat langsung dioperasikannya sistem MRT ini adalah mampu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan karena dengan adanya MRT diharapkan dapat mengalihkan masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi massal. 
·         Selain  itu, MRT juga memberikan kontribusi dalam meningkatan kapasitas transportasi publik. Kapasitas angkut MRT (Lebak Bulus ke Bundaran HI) diharapkan mencapai sekitar 412 ribu penumpang per hari (tahun ketiga operasi dengan TOD dan TDM).
·         Stasiun MRT akan titik baru pertumbuhan aktifitas ekonomi. Karena setiap stasiun akan dihubungkan dengan aktifitas publik, perkantoran dan pusat komersial .
Pembangunan MRT Jakarta juga diharapkan mampu memberi dampak positif antara lain:

·          Penciptaan lapangan kerja: selama periode konstruksi, proyek MRT Jakarta diharapkan dapat menciptakan sekitar 48.000 pekerjaan baru

·         Penurunan waktu tempuh & meningkatkan mobilitas: Waktu tempuh antara Lebak Bulus sampai Bundaran HI diharapkan turun dari 1-2 jam pada jam-jam sibuk menjadi 30 menit, sedangkan dari Lebak Bulus sampai Kampung Bandan target waktu tempuh sekitar 52.5 menit. Penurunan waktu tempuh ini akan meningkatkan mobilitas warga Jakarta.  Meningkatnya mobilitas warga kota ini memberikan dampak kepada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi kota, dan meningkatkan kualitas hidup warga kota
·         Terjadinya pertumbuhan usaha di bidang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di DKI Jakarta. Sebab di sepanjang stasiun MRT akan dibangun usaha atau took berbagai produk yang ditawarkan .

·          Dampak lingkungan : 0.7% dari total emisi CO2, yaitu sekitar 93.663 ton per tahun akan dikurangi oleh MRT (Data Revised Implementation Program for Jakarta MRT System  2005)

·         Transit - Urban Integration yang menjadikan sistem MRT sebagai pendorong untuk merestorasi tata ruang kota. Integrasi transit-urban diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada area sekitar stasiun, sehingga dapat berdampak langsung kepada peningkatan jumlah penumpang MRT Jakarta

Pengaturan jadwal keberangkatan MRT
Diproyeksikan jadwal operasi MRT Jakarta dari jam 05.00 pagi sampai jam 24.00 malam.  Waktu tunggu atau headway MRT Jakarta nantinya adalah setiap 5 menit (pada tahun pertama operasi). Diharapkan tahun-tahun berikutnya headway ini dapat dipersingkat menjadi setiap 4 atau  3 menit. 

Untuk penjadwalan operasi ini akan ditulis dalam grafik perjalanan MRT Jakarta yang harus dipatuhi dan MRT Jakarta akan menggunakan sistem kontrol terpadu yang mengatur ketepatan jadwal operasi MRT Jakarta.
Sosialisasi MRT
MRT bagi publik akan melegakan dan selayaknya Proyek MRT terus memberikan informasi dan sosialisasi yang baik kepada publik karena pada proses pembangunannya tentu menimbulkan gangguan yang luar biasa kepada pelayanan publik seperti memperlebar jalan sekitar proyek, membuat rute alternatif, pengaturan ulang jalur dan sebagainya.

Sosialisasi perlu dilakukan agar publik menyadari bahwa dampak tersebut pengorbanan yang layak untuk mendapat kenyamanan yang akan datang setelah MRT beroperasi. MRT diharapkan :
·         dapat memberikan solusi atas kemacetan Jakarta .
·         mengurangi kerugian yang timbul sebagai akibat kehilangan waktu produktif, kerusakan lingkungan secara signifikan dengan pengoperasian MRT.

Operator MRT
·         Operator MRT dan penanggungjawab pelaksanaan kegiatan pembangunan sistem MRT adalah PT MRT Jakarta yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan saham 99,5% dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan 0,5% lainnya dimiliki oleh PD Pasar Jaya sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2008.
·         MRT berada di bawah kebijakan dan arahan  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sehingga diharapkan tidak ada dualisme antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di dalam kebijakan dan arahan atas pengoperasian MRT.
·         Sebagai BUMD, seluruh pendapatan, biaya dan investasi MRT akan dipertanggungjawabkan oleh PT MRT Jakarta kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
·         Demikian juga hal nya dengan pengembangan dan pengelolaan bisnis dan properti di sekitar setasiun MRT. Pengelolaan bisnis dan properti ini sangat penting mengingat pada umumnya pengusahaan angkutan urban selalu harus mendapatkan Public Service Obligation (PSO)  ataupun subsidi dari Pemerintah.
·          Pengembangan hasil usaha dari properti dan komersialisasi area sekitar stasiun akan memberikan sumbangan pendapatan yang sangat berarti di luar pendapatan dari tiket.
·         Kesuksesan pengembangan properti dan komersialisasi stasiun tentu akan dapat mengurangi PSO, subsidi atau menambah dana untuk pengembangan sistem MRT Jakarta .


Referensi / Daftar Pustaka :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar